Ekstrakurikuler Riset MTsN 2 Probolinggo Uji Kandungan Nanas, Tomat, dan Recodescolor, Dorong Siswa Berani Menemukan Gagasan Baru
Pajarakan — Laboratorium IPA MTsN 2 Probolinggo kembali menjadi ruang tumbuh bagi rasa ingin tahu, kreativitas, dan semangat ilmiah peserta didik. Melalui Ekstrakurikuler Riset, siswa dari kelas VII, VIII, dan IX secara konsisten melakukan berbagai kegiatan penelitian sederhana dengan memanfaatkan bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu kegiatan yang tengah dikembangkan adalah riset uji kandungan nanas, tomat, recodescolor, serta kajian pembuatan tepache rumahan berbahan nanas dan tomat. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap Kamis sore pukul 15.00–16.15 WIB di Laboratorium IPA MTsN 2 Probolinggo.
Hingga Kamis, 20 Agustus 2026, kegiatan riset tersebut masih terus berlanjut. Proses penelitian dilakukan secara bertahap untuk memperoleh hasil pengamatan yang maksimal sekaligus memberikan pengalaman nyata kepada siswa dalam memahami bagaimana sebuah penelitian dirancang, diamati, dianalisis, dan dikembangkan.
Laboratorium Menjadi Ruang Bertanya
Bagi peserta Ekstrakurikuler Riset, laboratorium bukan sekadar ruangan yang dipenuhi peralatan ilmiah. Di tempat inilah berbagai pertanyaan sederhana mulai diubah menjadi gagasan penelitian.
Dengan metode pengamatan atau observasi menggunakan mikroskop serta uji laboratorium, para siswa diajak untuk melihat objek penelitian secara lebih dekat. Mereka belajar bahwa sesuatu yang tampak sederhana di sekitar mereka ternyata dapat menyimpan berbagai fenomena menarik untuk dikaji.
Proses tersebut menuntut ketelitian. Siswa tidak hanya diarahkan untuk memperoleh sebuah hasil, tetapi juga memahami proses bagaimana hasil tersebut ditemukan.
Mulai dari mengamati objek, mencatat temuan, membandingkan hasil, mendiskusikan kemungkinan yang muncul, hingga menarik kesimpulan menjadi bagian dari pengalaman belajar mereka.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata pembelajaran berbasis riset yang mendorong siswa untuk tidak sekadar bertanya “apa?”, tetapi juga berani melangkah lebih jauh dengan pertanyaan “mengapa?” dan “bagaimana?”
Belajar Meneliti dari Bahan yang Dekat
Pemilihan nanas, tomat, dan bahan penelitian lainnya memberikan pengalaman menarik bagi siswa karena objek penelitian berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diajak memahami bahwa penelitian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Rasa ingin tahu terhadap bahan makanan, fenomena biologis, maupun perubahan karakteristik suatu objek dapat menjadi titik awal lahirnya sebuah penelitian.
Kajian mengenai tepache rumahan berbahan nanas dan tomat juga menjadi bagian dari eksplorasi ilmiah yang dilakukan peserta didik. Kegiatan tersebut ditempatkan sebagai objek kajian untuk mengembangkan kemampuan observasi, pencatatan, analisis, dan pemahaman siswa terhadap berbagai fenomena yang terjadi selama proses penelitian.
Dengan demikian, kegiatan riset tidak berhenti pada aktivitas praktikum, tetapi diarahkan untuk membangun pola berpikir ilmiah.
Kepala Madrasah: Riset Harus Melahirkan Keberanian Berpikir
Kepala MTsN 2 Probolinggo, Ernawiyadi, S.Ag., memberikan apresiasi terhadap keberlanjutan kegiatan Ekstrakurikuler Riset yang melibatkan siswa lintas jenjang.
Menurutnya, budaya riset merupakan salah satu kekuatan penting dalam membentuk peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mampu menghadapi berbagai persoalan secara sistematis.
“Kami sangat mendukung kegiatan riset karena anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi mengalami sendiri proses menemukan, mengamati, menganalisis, dan menyimpulkan. Inilah pengalaman belajar yang sangat berharga,” ungkap Ernawiyadi.
Ia menambahkan bahwa madrasah perlu memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan ide dan gagasan yang lahir dari rasa ingin tahu mereka.
“Harapan kami, kegiatan ini mampu melahirkan generasi yang tidak takut bertanya dan tidak berhenti pada jawaban pertama. Anak-anak harus memiliki keberanian untuk mencoba, melakukan penelitian, menemukan sesuatu yang baru, kemudian mengembangkannya menjadi gagasan yang bermanfaat,” tegasnya.
Bagi Ernawiyadi, keberhasilan sebuah kegiatan riset tidak semata-mata diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari kemampuan siswa menikmati proses ilmiah dan belajar dari setiap temuan.
Kesiswaan: Ekstrakurikuler Menjadi Laboratorium Karakter
Sementara itu, Waka Bidang Kesiswaan MTsN 2 Probolinggo, Erma Yuli Astutik, M.PdI., melihat kegiatan riset sebagai salah satu bentuk pengembangan potensi peserta didik di luar pembelajaran intrakurikuler.
Menurutnya, aktivitas penelitian mampu menumbuhkan sejumlah karakter positif, mulai dari disiplin, ketelitian, tanggung jawab, kerja sama, hingga kemampuan menyampaikan gagasan.
“Ekstrakurikuler bukan sekadar kegiatan tambahan setelah pembelajaran. Di dalamnya anak-anak dapat menemukan potensi dirinya. Melalui riset, mereka belajar bahwa sebuah hasil membutuhkan proses, ketekunan, dan kesabaran,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan Ekstrakurikuler Riset dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat terhadap ilmu pengetahuan sejak dini.
“Kami ingin anak-anak memiliki keberanian untuk mengembangkan ide. Tidak harus selalu menunggu instruksi. Mereka perlu belajar melihat lingkungan, menemukan persoalan, kemudian memikirkan kemungkinan solusi melalui pendekatan ilmiah,” tambahnya.
Pembina Riset: Membentuk Peneliti Muda yang Mandiri
Pembina Riset MTsN 2 Probolinggo, Ibu Sudar Budi Utami, menegaskan bahwa kegiatan riset secara berkelanjutan diarahkan untuk membangun kemandirian peserta didik.
Menurutnya, siswa perlu mendapatkan pengalaman langsung agar memahami bahwa penelitian merupakan sebuah proses yang membutuhkan ketekunan dan kemampuan berpikir.
“Kami berusaha memberikan ruang kepada anak-anak untuk memahami penelitian secara bertahap. Mereka belajar melakukan observasi, melihat objek penelitian, mencatat hasil, menganalisis temuan, dan mendiskusikannya. Yang paling penting adalah mereka mulai memahami bagaimana sebuah ide dapat dikembangkan menjadi penelitian,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan kegiatan agar siswa tidak hanya mengenal riset secara teoritis.
“Kegiatan ini terus kami lanjutkan karena kami ingin memperoleh hasil yang maksimal sekaligus melatih anak-anak agar semakin mandiri. Kami berharap mereka mampu memiliki ide atau gagasan yang terbarukan, kemudian berani mengujinya melalui proses penelitian,” tuturnya.
Pendampingan tersebut menjadi semakin penting karena peserta riset berasal dari tiga jenjang sekaligus. Perbedaan pengalaman dan kemampuan justru menjadi kesempatan bagi mereka untuk saling belajar, berdiskusi, dan berkolaborasi.
Dari Pengamatan Menuju Gagasan Terbarukan
Rutinitas setiap Kamis sore perlahan membentuk sebuah budaya baru di lingkungan madrasah: budaya bertanya, mengamati, mencatat, dan mencari jawaban.
Di bawah pendampingan pengajar riset Kurnia Dewi Permatasari, M.Pd., serta pembinaan Ibu Sudar Budi Utami, peserta didik mendapatkan kesempatan untuk mengenal dunia penelitian melalui aktivitas yang konkret dan kontekstual.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya MTsN 2 Probolinggo memperkuat identitasnya sebagai Madrasah Riset, dengan memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah sejak bangku madrasah.
Jika dilakukan secara konsisten, pengalaman sederhana di laboratorium hari ini dapat menjadi bekal berharga bagi perjalanan akademik mereka pada masa mendatang.
Sebab, seorang peneliti tidak selalu lahir dari pertanyaan besar.
Terkadang, semuanya bermula dari rasa penasaran yang sederhana.
Mengapa suatu bahan memiliki karakter tertentu? Apa yang terjadi ketika diamati lebih dekat? Bagaimana sebuah perubahan dapat dijelaskan secara ilmiah? Dan mungkinkah dari pengamatan tersebut lahir sebuah inovasi?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang perlahan sedang ditanamkan kepada peserta didik MTsN 2 Probolinggo.
Laboratorium Kecil, Mimpi Besar
Kamis sore di Laboratorium IPA MTsN 2 Probolinggo mungkin terlihat seperti kegiatan biasa. Beberapa siswa mengamati objek, sebagian mencatat hasil, sementara yang lain berdiskusi mengenai temuan yang mereka dapatkan.
Namun di balik aktivitas tersebut, sesungguhnya sedang berlangsung proses yang jauh lebih besar: pembentukan cara berpikir generasi masa depan.
Mereka sedang belajar bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dihafalkan, tetapi dicari dan dibuktikan. Bahwa kegagalan bukan akhir dari penelitian, melainkan bagian dari proses menemukan jawaban. Dan bahwa sebuah gagasan yang sederhana dapat berkembang menjadi karya ketika dikerjakan dengan ketekunan.
Ekstrakurikuler Riset MTsN 2 Probolinggo pun terus bergerak. Dari mikroskop, catatan pengamatan, dan uji laboratorium, para siswa sedang merangkai pengalaman menjadi pengetahuan.
Dari laboratorium madrasah, mereka belajar membaca fenomena. Dari fenomena, mereka menemukan pertanyaan. Dari pertanyaan, mereka membangun riset. Dan dari riset, semoga lahir generasi yang berani menciptakan gagasan-gagasan baru untuk masa depan.
TIM PUBLIKASI & DOKUMENTASI
Penulis: Juarnis Retno W.
Editor: Yudi Setiawan
Layout & Design: Ihya’ulumuddin
Publisher: Andri Yodha & Okky Buyung F.
Fotografer: Indah & Mauidzatul H.
Videografer & Editor: Moh. Syaifullah
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Literasi Keuangan Sejak Dini, Bekal Generasi Madrasah untuk Belajar Mengelola Masa Depan
Pajarakan — Menabung bukan sekadar menyisihkan uang. Di balik kebiasaan sederhana tersebut tersimpan pendidikan tentang kedisiplinan, tanggung jawab, perencanaan, dan kemampuan me
MTsN 2 Probolinggo Perkuat Layanan TPG, Operator Madrasah Ikuti FGD Kanwil Kemenag Jatim di Kota Batu
Pajarakan — Komitmen meningkatkan kualitas tata kelola layanan administrasi madrasah kembali ditunjukkan MTsN 2 Probolinggo. Madrasah mengikuti Focus Group Discussion (FGD) &ldquo
SYAFA’ATUL MUSTHOFA MENGALUN, MAULID PUN BERKAH
PROBOLINGGO — Lantunan shalawat yang merdu mengalun di Aula Al-Ikhlas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Rabu (19/8/2026). Suasana Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Gemulai Gerak, Teguh Makna: Tari Saman MTsN 2 Probolinggo Debut di Hadapan DWP Kemenag
PROBOLINGGO — Denting suasana khidmat Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aula Al-Ikhlas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Rabu (19/8/2026), mendadak terasa semak
Cinta Nabi, Cinta Negeri: DWP MTsN 2 Probolinggo Semarakkan Maulid Nabi dengan Spirit Kemerdekaan dalam Iman dan Aksi
PROBOLINGGO — Semangat mencintai Rasulullah SAW sekaligus meneguhkan kecintaan kepada tanah air menjadi ruh dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Dha
